Pages

Thursday, June 28, 2012

#LarukuJKT: Moment-by-Moment Recollection of a 12 Years-Old Dream

Protes Bacok: #LarukuJKT: Moment-by-Moment Recollection of a 12 Years-Old Dream --> -->
Btw, semua yang pengen gw tulis sudah tertulis oleh cieler yang satu ini, jadi gw copas dari blog nya cielers di sini , Arigathou 



THE BEGINNING

Semuanya berawal dari tweet manajer L'Arc~en~Ciel tahun lalu.


Sejak tahun 2005, rumor tentang kedatangan band favorit gue ini udah seliweran, tapi nggak pernah ada yang bisa dipertanggungjawabkan. "Tahun depan, tahun depan, tahun depan." Bahkan hashtag #LarukuJKT sudah terlacak di twitter sejak tahun 2010. False alarm yang berulangkali mengangkat emosi sampai ke tingkat euforia, lalu akhirnya lewat begitu saja sebagai kabar burung belaka. Tapi gue punya harapan jauh lebih besar pada frase 'tahun depan' kali itu karena adanya tweet di atas, makanya gue mulai nabung untuk entah tanggal berapa di tahun 2012 Laruku--begitu mereka biasa disebut oleh lidah Jepang--betul-betul menggelar konser di Indonesia.

Dan walaupun udah siap-siap sejak beberapa bulan sebelumnya, kemunculan tweet ini tetap membuat gue merinding sekujur tubuh dan nyaris nangis saat itu juga.



Entah saking tingginya gue memandang L'Arc~en~Ciel atau gimana, eksistensi mereka buat gue hampir seperti superhero di komik-komik yang nggak mungkin gue temui di kehidupan nyata, dan video konser mereka yang selama ini gue tonton seolah bertempat di dimensi parallel yang nggak terjangkau. Bayangan bahwa gue bisa berdiri di depan panggung konser Laruku, bisa saling melihat dan mendengar dengan keempat personelnya secara langsung walaupun hanya sebagai satu di antara ribuan titik yang menyublim dalam singalong massal, terasa surreal buat gue, bahkan absurd.

Maka, mohon pengertiannya kalo cerita ini sangat panjang, sentimentil atau bahkan lebay, karena gue pengen mendokumentasikan setiap detil emosi yang gue rasakan tentang #LarukuJKT, which is the best day in my life so far.


THE JOURNEY AND THE FELLOWS

Seperti sebagian besar fans mereka di sini, gue pertama kali jatuh cinta sama Laruku waktu SD, pada lagu 4th Avenue Cafe yang diputar sebagai ending theme anime Rurouni Kenshin yang ditayangkan oleh SCTV dengan judul Samurai X. Setelah itu, bisa dibilang gue tumbuh bersama Laruku. Membentuk band yang mengcover lagu-lagu mereka saat kelas 3 SMP di mana gue main sebagai keyboardist (lagu mereka yang pertama gue cover adalah Winterfall, Honey dan Driver's High). Mencari terjemahan lirik lagu-lagu mereka di internet dan menyimpulkan bahwa Hyde adalah salah satu penulis lirik terbaik yang gue tahu. Mendapat jatah album Heart dalam acara Tribute to L'Arc~en~Ciel di Jogja tahun 2005, event pertama yang meyakinkan gue bahwa konser Laruku di Indonesia pasti akan memiliki crowd yang luar biasa. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Selagi mengingat masa-masa itu, dalam sekejap mata tiga bulan terlewati, lalu tiba-tiba gue udah berdiri di luar Gate 1 venue 20th L'Anniversary L'Arc~en~Ciel World Tour Jakarta, Lapangan D Senayan, bersama orang-orang ini.


Saat itu masih pukul 15.00. Gate 1 dibuka pukul 16.00 dan yang ngantri di luar udah bangsat penuhnya kayak gitu. Sedikit menyesal karena nggak dateng lebih cepat, tapi perasaan itu juga pupus melihat antusiasme penonton lain. Ada sekelompok cewek berjilbab yang membuat video rekaman mereka menyanyikan reff lagu Anata bersama-sama, ada yang cosplay bergaya gothic lolita (yang terus terang pengen gue sobek-sobek bajunya, bukan apa-apa, PANAS GILA liatnya), ada yang saling telponan sama temennya yang datang dari kota berbeda supaya bisa saling ketemu. Ribuan orang ini datang dari berbagai penjuru Indonesia untuk melihat Laruku secara langsung, bahkan ada yang sengaja terbang dari Melbourne seperti Bintang, salah satu anggota rombongan jamaah Larukuiyah gue.

Antusiasme para fans ini bikin gue merinding. Belum lagi mengingat perjuangan mendapatkan tiket yang mengikat gue dan beberapa teman lain dalam satu whatsapp group bernama Concert Vigilontes--no, it's not a typo--yang dinamakan demikian karena hasrat pengen kebiri setiap calo yang bikin tiket jadi cepet abis dan mahal. Gue yakin, Marygops Studios, promotor konser ini, juga nggak menyangka akan dapet sambutan segini besar.

Yang jelas, selain Laruku-nya sendiri, salah satu hal paling menyenangkan dan memorable dari konser ini adalah crowd-nya. Misalnya, saat area konser sudah mulai penuh namun masih ada waktu satu setengah jam sampai konser dimulai, crowd yang mati gaya akhirnya kompak trolling dengan bersorak dan bertepuk tangan keras-keras setiap ada kru yang lewat di atas panggung sampe mereka bingung dan akhirnya menuju backstage dengan malu-malu (kata Helda di blognya, "tak ada Laruku, Larukru pun jadi."). Lalu saat teriak-teriak, "OISHI-SAAAN!" waktu si manajer yang gemar foto-foto itu mengambil gambar penonton dari atas panggung dan bikin gue mikir, apa ada hari gini fandom yang segini apalnya sama manajer sebuah band (selain Slank, mungkin). Gue juga inget waktu nunggu Gate 2 dibuka dan kaki mulai berasa gempor, ada cewek di belakang gue yang ngasih koran buat alas duduk. Ada juga cewek yang berdiri di belakang gue saat konser, yang bantuin gue dan Helda pake jas hujan sebelum konser mulai. Hari itu, sungguh gue nggak peduli siapa berasal dari mana dan seperti apa orang itu di kesehariannya, kapan dia mulai suka Laruku dan kenapa, atau tetek-bengek lainnya. Semakin lama gue menghabiskan waktu bersama orang-orang asing ini, gue makin ngerasa bahwa kita seperti satu keluarga besar yang merindukan sesuatu yang sama. Dan ini membuat gue paham kenapa ada yang menyamakan konser band idola dengan ibadah haji.

"JAMA'AAAAAAAAARC!!!" 
Terus terang, sebelum konser itu dimulai, gue sendiri nggak ngerti seberapa besar rasa suka gue ke L'Arc~en~Ciel. Ya, gue menghabiskan lebih dari separuh umur bersama Laruku, menghabiskan jutaan rupiah untuk beli tiket konser dan perjalanan Jogja-Jakarta PP, memaki J-Rocks secara terbuka di majalah Trax karena terang-terangan menjiplak Laruku dan menjadikan "musik yang mirip L'Arc~en~Ciel" sebagai definisi genre J-Rock, dan masih banyak lagi. Tapi setelah LED screen segede Godzilla di latar panggung--yang awalnya gue kira backdrop hitam biasa--menyala dan menampilkan film pembuka 20th L'Anniversary L'Arc~en~Ciel World Tour dan menyadarkan gue bahwa #LarukuJKT bukan mimpi, gue spontan nangis sejadi-jadinya, bahkan sebelum keempat personel Laruku keluar. Lalu gue tersadar bahwa gue memang cinta, bukan hanya sekedar mengidolakan band ini.

Saat itu, rasanya seperti kenangan bertumbuh bersama dan menunggu L'Arc~en~Ciel selama 12 tahun meluap, terkondensasi, lalu tumpahlah dalam bentuk air mata. Hasilnya, waktu screen meredup dan lampu sorot menampilkan sosok Hyde, Tetsu, Ken dan Yukihiro di panggung memainkan lagu Ibara no Namida, gue singalong sambil sesenggukan. Satu tangan terangkat mengacungkan lightstick, satunya menutupi setengah muka dengan handuk/shawl yang gue dapat dari VIP package. Absurd. Dan, gue yakin, pasti nampak imbisil. Tapi gue bahagia.


THE 3 HOURS THAT LINGER

Setelah Ibara no Namida, berturut-turut CHASE dan GOOD LUCK MY WAY dibawakan, semuanya disambut koor Cielers Indonesia yang terbilang unik, karena di footage konser Laruku di tempat lain gue nggak pernah nemu crowd yang nyanyi mulai dari awal sampai akhir lagu, di setiap lagu yang dibawakan. Dan begitu juga menurut salah satu teman yang sudah mengalami beberapa konser Laruku sebelumnya. Walaupun memang harus diakui, koor itu terdengar jauh lebih keras saat lagu-lagu dari album lama dimainkan, seperti pada lagu keempat, Honey.


Setelah Honey, DRINK IT DOWN dan Revelation menyusul mengiringi crowd yang jejingkrakan seolah nggak ada capeknya, padahal banyak yang udah berdiri dalam cuaca luar biasa panas selama enam jam, bahkan lebih. Tapi energi bukannya berkurang, malah seperti makin bertambah, seperti saat menimpali intro drum Revelation dengan teriakan "OI!" berulang-ulang. Dan seperti tahu kondisi penontonnya, setelah itu Ken, Tetsu dan Hyde pun duduk di tengah panggung, memberi tanda bahwa mereka akan memainkan sebuah ballad. Dan mengalunlah intro Hitomi no Jyuunin. Lampu sorot meredup, dan penonton berubah menjadi lautan cahaya warna-warni dari lightstick yang mereka lambaikan. Kali ini gue nggak nangis sendirian, karena di sekeliling gue, termasuk mas-mas bertampang metal di sebelah kanan, juga singalong sambil berlinang air mata. Mungkin video ini bisa menggambarkan suasana saat itu, karena kata-kata jelas nggak cukup.

Setelah puas megap-megap karena teriak-teriak sambil nangis, crowd langsung diangkat lagi dengan XXX yang cukup bikin radar seksual para cowok jadi agak noise karena goyangan Hyde yang memang xxx, sesuai judul lagunya. Aris, temen sekaligus anggota embarkasi Jateng-DIY jemaah Larukuiyah di sebelah gue, menggambarkannya dengan tepat: "harusnya Maroon 5 bikin lagu Moves Like Hyde." Bulls-eye!

Sehabis suguhan audiovisual menghanyutkan itu, emosi Cielers langsung dibanting lagi oleh Fate yang dibawakan back-to-back dengan Forbidden Lover. Pada saat ini, gue udah tereduksi menjadi gumpalan air mata karena, bisa dibilang, melihat Fate dimainkan secara live oleh Laruku adalah permintaan yang bahkan nggak berani gue ucapkan karena terkesan terlalu muluk. It's my absolute favorite of all L'Arc~en~Ciel songs, yet it's an old song from their 5th album and it's not even a single. Gue masih inget nonton versi live lagu ini di VCD (yes, VCD) REALIVE 2000, duduk memeluk dengkul dan nangis di depan monitor. Jangan tanya gimana bentuk gue pas lagu itu dimainin di #LarukuJKT kemaren, gue udah nggak ngerti lagi. Apalagi dengan tanpa ampunnya lagu itu disambung dengan Forbidden Lover yang nyaris selalu bikin Hyde menangis saat menyanyikannya. And yes, he did during the song in Jakarta, dan gue rasa semua orang yang melihat perubahan matanya mulai dari jernih, berkaca-kaca, sampai akhirnya meneteskan air mata lewat screen besar di belakang panggung nggak akan lupa momen itu.


Kelar bertangisan massal, Ken mengisi jeda dengan solo bluesy yang sangat clean dan lumayan bikin misuh-misuh, yang langsung disambung dengan MY HEART DRAWS A DREAM. Lagi-lagi di tengah lagu ini ada momen bikin merinding ke-entahberapa, yaitu saat penonton chanting 'yume wo egaku yo' (lit. I draw a dream) berulang-ulang dengan backdrop screen menampilkan lautan tangan yang mengangkat lightstick atau membentuk sign "L", seolah melukiskan mimpi mereka yang menjadi kenyataan, yaitu bernyanyi dan bersenang-senang bersama Laruku. Di titik ini, gue mulai bertanya-tanya, bisa nggak seseorang mati dehidrasi karena kehabisan air mata, soalnya frekuensi dan intensitas nangis gue di konser ini udah melebihi seluruh episode sinetron Naysilla Mirdad dikompresi ke dalam durasi satu jam, dan Laruku baru memainkan sebelas lagu.

Untungnya, SEVENTH HEAVEN langsung mengajak Cielers berpesta lagi setelah itu, lengkap dengan tembakan confetti ke udara yang seketika membuat penglihatan dipenuhi pita-pita warna-warni. Suasana makin menggila saat sound effect mesin mobil yang dinyalakan terdengar, pertanda Driver's High akan dimainkan. Penonton Indonesia kembali menunjukkan reputasi hiperaktifnya dengan chants "OI!" berulang ketika intro, juga seruan "CLASH!" dan "FLASH!" di reff yang dibarengi loncatan. Di lagu ini pula sesuatu yang sangat langka terjadi, yaitu Hyde menyodorkan mic dan membiarkan crowd menyanyikan bagian bridge secara penuh, bahkan tampak girang sendiri saat melakukannya. Menyaksikan ini secara langsung betul-betul priceless! Makin priceless lagi saat gue nengok ke kiri dan ngeliat si Aris lagi sesenggukan. Bener-bener salah gaya. Mestinya ini lagu yang optimis dan semangat, eh doi malah mewek. But it's sweet, though, because it shows that every L'Arc song has a different meaning to each one of their fans. 8')


Seolah nggak mau kehilangan momen, solo performance Tetsu yang simpel tapi cukup bikin fanboys & fangirls histeris tampil mendahului lagu selanjutnya, STAY AWAY, yang tentu saja disambut koor membahana seisi Lapangan D. Pada interlude di tengah lagu ini, crowd melakukan synchronized clapping mengiringi beat drum Yukki, sambil tetap singalong tentunya, because that's what we did throughout the show. Di tengah-tengah clapping itu gue mendadak merasa berada dalam sebuah magical moment karena tanpa menoleh ke belakang, gue tahu seven-fuckin-thousands other people sedang melakukan hal yang sama. 'Epic' is an understatement.

Ready Steady Go dan kembang api besar yang memancar dari panggung serta solo drum Yukihiro menutup bagian pertama pesta Cielers, karena para personel Laruku kemudian menghilang ke balik panggung, memancing penonton untuk memanggil mereka kembali untuk encore. And called for them we did, berulang-ulang, dengan berbagai macam chants, mulai dari 'we want more' sampai 'encore'.


Setelah 10 menit yang terasa bagai berjam-jam karena perpaduan dari rasa nggak sabaran dan keletihan yang semakin menggempur, entah dimulai dari mana, reffrain Anata dinyanyikan oleh crowd, tanpa henti, bahkan semakin lama semakin keras. Gue agak khawatir encore dibatalkan karena hujan mulai turun lagi, tapi tampaknya kecemasan itu nggak beralasan, karena tidak ada seorang pun penonton yang kelihatan mau beranjak atau berhenti bernyanyi sebelum Laruku kembali dan menuntaskan encore-nya. Sebenernya saat itu gue sendiri udah nyaris nggak kuat karena darah rendah, dehidrasi dan maag, sampe akhirnya terpaksa jongkok untuk memulihkan diri walaupun sedikit. Tapi dalam keadaan meringkuk gitu pun gue tetep ngotot ikut nyanyi terus, sampe kuat berdiri lagi. Ternyata di sekitar gue juga penuh dengan muka-muka kecapekan, tapi mereka tetep nyanyi walaupun harus sambil menengadah karena kehabisan napas setelah terus-terusan berdiri di tengah kerumunan. Saat menulis ini, gue bertanya-tanya, sihir macam apa yang bisa menggerakkan tekad begitu banyak orang, termasuk gue, yang seandainya dalam peristiwa lain pasti udah pingsan dari kapan tau.

Sekonyong-konyong terdengar suara piano yang diikuti jeritan crowd. Screen kembali menyala, menampilkan lirik reffrain Anata, disusul synth yang mengiringi nyanyian ribuan Cielers di bawah hujan. Dan gue kembali tercekik air mata sendiri. Merinding, sudah pasti. Terlebih saat Hyde, Tetsu, Ken dan Yuki kembali dengan outfit serba putih dan memainkan Anata. Liriknya yang sangat heartfelt itu seolah jadi cara L'Arc~en~Ciel dan Cielers saling menyampaikan makna pihak satunya bagi masing-masing diri mereka. 
胸にいつの氷見も輝く あなたがいるから
Mune ni itsu no hi ni mo kagayaku, anata ga iru kara
(It will shine eternally in my heart, because you are here) 
涙彼果てても大切な あなたがいるから
Namida karehatete mo taisetsu na anata ga iru kara 
(Even if tears run dry, it will stay precious, because you are here)
Kalo ada kalimat yang paling menggambarkan perasaan gue saat itu, mungkin penggalan lirik dari Hitomi no Jyuunin ini: 'hitomi ni sundeitai' (I want to reside in your eyes). Gue pengen mereka mengingat apa yang mereka lihat dari stage sebagai sesuatu yang istimewa. Untuk gue sendiri, view di akhir Anata di mana LCD screen bersinar putih terang sampai membuat para personel Laruku di depannya tampak sebagai 4 siluet, udah nggak mungkin lagi lepas dari mata dan otak. L'Arc~en~Ciel has since become my hitomi no jyuunin, the ones who live in my pupils.

Seperti tak puasnya membetot emosi, setelah mengobok-obok hati dengan Anata, terdengarlah intro piano diikuti beat drum yang sangat familiar bagi Cielers Indonesia, tapi bener-bener tak disangka karena sangat jarang dimainkan di tempat lain. Intro tersebut adalah milik the Fourth Avenue Cafe, lagu yang bagi banyak fans, termasuk gue, mengawali penantian mereka akan kedatangan L'Arc~en~Ciel ke Indonesia. Sontak semua orang melonjak-lonjak, lupa akan keletihan masing-masing, dan singalong gila-gilaan. Sejak saat itu, kalo diminta untuk memvisualisasikan idiom 'singing one's heart out', video live lagu inilah yang akan gue pakai. Benar-benar scene yang unforgettable dan incomparable.

Konser mendekati usai, tapi di tengah-tengah lagu berikutnya, Link, Laruku masih sempat menyelipkan jeda agar sang leader sekaligus bassist handal Tetsu bisa menyapa crowd sekaligus melakukan ritualnya yang sudah ditunggu-tunggu, yaitu berbagi pisang dan lolipop, sambil tak lupa melontarkan joke om-om mesum. "KARIAN MAU JIRAT PISANG GUWA?" Teriaknya sebelum melemparkan Mukimpo-kun, begitu 'pisang Tetsu' biasa disebut, ke kerumunan penonton yang seketika berubah jadi sekumpulan simpanse beringas.

Seperti semua tuan rumah yang hebat, yang mengakhiri pesta saat semua orang berada dalam puncak kebahagiaan, Hyde berpamitan--dalam bahasa Indonesia--dan berjanji akan kembali untuk berpesta lagi bersama Cielers Indonesia. "Kami datang ke Indonesia lagi. Ini lagu terakhir...," katanya sebelum melantunkan Niji, diiringi koor massal terakhir dari fans yang keliatan jelas tidak rela menyudahi konser impian tersebut. White feathers--seperti judul salah satu lagu mereka--sungguhan, bukan sekadar CG dalam screen, berjatuhan menghujani Lapangan D, ke arah tangan-tangan yang terulur menggapai.

Mungkin L'Arc~en~Ciel memang malaikat yang memilih melepaskan sayapnya untuk membuat surga kecil di dunia dengan musik mereka. Mungkin. Rasanya tidak terlalu sulit untuk mempercayai itu.


THE SOUVENIRS

Setelah semua member Laruku silam ke balik panggung, gue masih berdiri terpaku di situ selama beberapa saat. Rasanya gue pengen peluk orang-orang yang ada di sekitar gue, yang gue tau merasakan hal yang kurang-lebih sama. Penantian 12 tahun terbayar lunas, tanpa cela. Dan sampai sekarang pun #LarukuJKT masih terasa surreal buat gue.

Banyak momen tak terlupakan di konser itu, seperti speech Hyde sebelum Honey. "Kalian senang bertemu aku? Aku? Aku juga." Sepanjang konser, semua personel Laruku menyapa penonton dengan bahasa Indonesia, kecuali Yukihiro yang memang tidak berbicara sama sekali dan hanya menimpali teman-temannya dengan drumroll 'tratakdush' yang, uhm, memberi sedikit efek ludruk pada konser ini. Skenario Ken yang pergi ke Pasaraya untuk membeli oleh-oleh buat Hyde, yang berujung pada dipaksanya si vokalis untuk main suling--no innuendo intended--di atas panggung, juga bikin gue makin kagum sama mereka. Usia karir 20 tahun dan status superstar tidak menghalangi mereka untuk sepenuh hati berusaha menghibur fans, walaupun setengah mempermalukan diri dengan bahasa Indonesia yang patah-patah dan aneh, dari segi pelafalan maupun substansi. Exempli gratia, "NASI GORENGNYA GOKIR!" dan "gua SuJu dari Korea".

Ludruk di langit. L'Udruk~en~Ciel. Ludruku.
Stage-acts mereka ini akhirnya membuat gue sedikit merevisi pandangan terhadap L'Arc~en~Ciel yang tadinya gue anggap tak tergapai, seperti divine creatures. Iya, mereka memang melindungi privasinya dengan sangat ketat, sehingga susah banget untuk mencari dokumentasi tentang hidup mereka di luar aktivitas Laruku. Tapi melihat selera humor mereka yang sangat... om-om, gue malah jadi mikir, mungkin karena privasi yang dijaga ketat itulah mereka jadi bisa bertumbuh dewasa dan menua layaknya, err, om-om pada umumnya. Dan ini justru bikin gue semakin respek sama mereka, bahwa di balik kostum panggung dan dandanan yang sering dibilang extravagant itu, ada kepribadian yang sangat relatable dan nggak terkesan palsu atau diva, seperti bintang Hollywood dan rockstar barat kebanyakan. Terlebih lagi, mereka nggak berusaha menutupi kepribadian itu, dan malah mengedepankannya di setiap interaksi dengan fans. Mungkin joke-joke mesum dan garing yang mereka lontarkan malam itu lebih berarti bagi gue daripada dapet kesempatan minta tanda tangan tapi melalui konser dengan interaksi yang biasa-biasa saja.

Ini juga salah satu faktor yang bikin temen Helda, cowok berusia 30-an awal, berkesimpulan bahwa #LarukuJKT menaikkan standar pribadinya tentang sebuah konser secara drastis. Kesimpulan itu langsung terbukti saat konser #MorrisseyJKT, delapan hari berikutnya. Walaupun dia mengenal dan ngefans Morrissey jauh lebih dulu daripada ke L'Arc~en~Ciel, konser yang katanya spektakuler juga itu jadi berasa sangat plain buat dia. Dia juga nangis waktu Ken ngomong, "MANTAP! Man man man man man?" Katanya, "you went as far as Blok M, localizing jokes for us, people who listen to you through pirated goods. Man, you made a grown man cry." 

He made a good point. Malam itu, gue dan ribuan fans lain merasa terhibur bukan hanya karena melihat mereka live di depan mata, tapi karena memang mereka melakukan effort untuk menghibur audiensnya. They're not just excellent musicians, that you can conclude by listening to their albums, tapi mereka juga penampil dan penghibur sejati, yang tahu bagaimana berterima kasih terhadap fansnya. Bahkan walaupun Indonesia merupakan fanbase yang besar karena fan-based sharing, dan karenanya berkontribusi sangat sedikit secara materiil terhadap kesuksesan mereka, L'Arc~en~Ciel tetap memberikan yang terbaik. Cara mereka berinteraksi membuat gue bukan cuma merasa 'udah nonton', tapi juga 'udah ketemu' Laruku. Mereka bener-bener mematok standar tinggi bagi live show siapa pun (dan selegendaris apa pun) yang mungkin gue datangi di masa depan.

Lalu, gue udah bilang belum bahwa gue suka banget sama crowd #LarukuJKT? 

Sepertinya gue bilang ratusan kali pun nggak akan cukup. Gue masih inget, bahkan sebelum konser mulai, gue sudah merasa sangat kagum pada crowd ini saat melihat seorang cewek sholat Maghrib di tengah area antrian sebelum masuk Gate 2. Gue juga masih inget dengan jelas perasaan takjub yang muncul saat menoleh ke belakang waktu jalan meninggalkan area VIP, dan menemukan seorang cewek dengan kursi roda di depan barikade yang memisahkan area VIP dengan Premium, memandang ke stage dari atas podium kecil yang dibangun oleh kru khusus buat dia. She was there the whole time. And I was like, fuck.

Lebih dari semua hal yang udah gue deskripsikan di atas, yang membuat gue merasa sebagai bagian dari sebuah keluarga besar yang luar biasa, gue juga dibuat sangat terharu dengan BLESS PROJECT yang diinisiasi oleh beberapa member @Cielers_ID ini.


Pamflet ini juga menyadarkan gue bahwa banyak fans yang datang ke Lapangan D Senayan dari entah mana aja bukan cuma buat nonton, tapi juga buat menunjukkan rasa terima kasih ke L'Arc~en~Ciel atas musik yang mereka buat selama 20 tahun ini. Walaupun suara peluit ternyata hanya terdengar di sekitar area VIP dan Premium terdepan sehingga banyak Cielers yang tidak ikut menyanyi karena mengira project ini batal, gue mendengar dari seorang teman yang beruntung mendapat posisi di depan stage, bahwa Hyde masih berada di sekitar panggung saat itu dan sepertinya mendengar chants BLESS tersebut. Konon, ekspresinya tampak terharu. Ketika gue denger kabar ini (bahkan sekarang saat gue ngetik), perasaan gue langsung campur aduk dan gue nangis (lagi). Dibandingkan dengan musik yang mereka buat untuk kami para fans, persembahan ini mungkin nggak ada apa-apanya, tapi setidaknya perasaan gue dan fans lain saat itu berhasil tersampaikan, meskipun kecil. Again: PRICELESS.


THE AFTERTASTE

Mengingat setiap detil #LarukuJKT untuk menulis post ini betul-betul menguras emosi. Gue sendiri nggak nyangka, 11 hari setelahnya, gue masih bisa menitikkan air mata setiap kali menonton footage atau mendengarkan setlist konser ini. Bukan semata Laruku-nya yang bikin gue hangover berkepanjangan, tapi semua-muanya konser tersebut. Beberapa orang yang tadinya hanya gue kenal di twitter, semenjak konser Laruku menjadi teman yang sering berbagi tentang banyak hal, kayak Aris dan Atri. Lalu, ikatan yang terjalin antarsesama fans mulai dari mengantri di luar Gate 1 sampai konser selesai, serta ikatan antara fans dan L'Arc~en~Ciel di atas panggung, menghasilkan energi yang luar biasa besar dan hangat, yang bikin gue selalu pengen balik lagi, lagi, dan lagi. Leaving May 2, 2012, is like a one way trip from home. Gue nggak bisa pulang, karena 'rumah' itu berada di tempat yang bukan dipisahkan oleh jarak, tapi oleh waktu. That's why I can't move on from that day, not anytime soon, if ever.

Mungkin di masa depan gue berkesempatan pergi ke live Laruku di negara lain. Tapi gue yakin, experience yang gue dapat nggak akan sama seperti kalo mereka main di sini lagi. Di tempat lain, gue nggak akan bisa berteriak, "HYDE-SAN! ARIGATOU!" dan mendapat jawaban, "terima kasih," dari Hyde sendiri, seperti yang terjadi kemarin. Indonesian audience is truly one of a kind, dengan spontanitas dan kejujuran ekspresinya. Saat Niji berkumandang di Lapangan D, gue bukan hanya nangis karena sedih konser berakhir dan bakal berpisah dengan semua itu, tapi juga senang karena sebelumnya Hyde bilang, "kami akan ke Indonesia lagi," yang berarti gue punya harapan untuk bertemu lagi dengan semuanya. 

Tetsu melemparkan beberapa Mukimpo-kun lagi dan menembakkan pistol air ke arah penonton, kemudian ia pun meninggalkan panggung dalam keadaan kosong. Tapi tidak sebelum ia berteriak, dengan senyum lebar dan lambaian tangan tinggi di udara, "mata ne!" Sampai bertemu lagi.

Pelangi itu akan kembali. And next time, let's make the memories better, for us and for them. 

Mata aimashou, L'Arc~en~Ciel. :)



Dedicated to all Indonesian Cielers and L'Arc~en~Ciel.
(Photo courtesy of Irockumentary, Blog Unikom, Rolling Stones Indonesia and TribunNews)








No comments:

Post a Comment