Pages

Wednesday, March 14, 2007

Delapan Kebohongan Ibu di dalam Hidupnya

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akanmembuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisahini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, maknasesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita danterbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorongmekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seoranganak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin.Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibusering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi kemangkukku, ibu berkata :"Makanlah nak, aku tidak lapar"----------KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkanwaktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibuberharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makananbergizi untuk petumbuhan anaknya.Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera.Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disampingku dan memakan sisadaging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulangikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh,lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepadaibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata :"Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan"---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untukditempel,dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupikebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengangigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api.Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek"---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemanikupergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selamabeberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudahselesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudahdisiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kentaltidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untukibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :"Minumlah nak, aku tidakhaus!"---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkapsebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri.Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpapenderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorangpaman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibukubaik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelahrumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkalimenasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keraskepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta"----------KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah danbekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidakmau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikitsayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yangbekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantumemenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uangtersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut.Ibu berkata : "Saya punya duit"----------KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudianmemperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerikaberkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan.Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayantinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika.Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, iaberkata kepadaku "Aku tidak terbiasa"----------KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kankerlambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh diseberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjengukibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnyasetelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap akudengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnyaterkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya.Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih,sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini.Tetapi ibu dengan tegarnya berkata :"jangan menangis anakku,Aku tidak kesakitan"----------KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercintamenutup matanya untuk yang terakhir kalinya.---ooOOOoo---

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasatersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu ! "Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak meneleponayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kitauntuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kitayang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untukmeninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayahdan ibu yang ada di rumah.Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli denganpacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemasapakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila disamping kita.Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum?Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar?Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi..Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita,lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" dikemudian hari.